PENGARANG

 

 
 
CARI  

 
 

 

©2000 PT Citra Aditya Bakti
Hak Cipta dilindungi
Undang-undang.
Desain dan perawatan situs
oleh Melsa-i-net

  Agama | Ekonomi | Eksakta | Hukum | Pendidikan Kependudukan dan ilmu sosial dasar | Publisistik/ilmu komunikasi | Sosial Politik |

Home | Daftar Pengarang | Cara Pemesanan

  Prof. Dr. C.F.G. Sunaryati Hartono, S.H.

RIWAYAT HIDUP

Nama : Prof. DR. Carolina Felicita Gerardine Sunaryati Hartono – Sunario
Lahir : di Medan, 7 Juni 1931
Ibu : Dina Maria Geraldine Maranta Sunario – Pantouw
Ayah : Prof. Mr. Sunario Sastrowardojo
Suami : Dokter Antonius Borromaeus Hartono Sosroseputro
Walaupun Sunaryati lahir di Medan, namun setelah berumur 4 bulan orang tua Sunaryati pindah ke Makassar, di mana ayahnya sebagai salah seorang anggota pendiri Partai Nasional Indonesia (bersama-sama dengan Ir. Soekarno dan Dr. Samsi) meneruskan upaya sosialisasi (mengajak dan menyadarkan masyarakat setempat) untuk bersama-sama menganggap dirinya orang Indonesia dan karena itu menjadi anak bangsa Indonesia (Indonesian nationbuilding) dan memupuk kesadaran berbangsa satu untuk kelak mendirikan negara baru Republik Indonesia.
Tentu saja profesi resminya bukan politikus, melainkan pengacara pada Landraad dan Hoog Gerechtshof di Makassar.
Selain menyumbangkan pikiran dan tenaganya menuju Indonesia Merdeka, Ibu Sunaryati, yang sehari-hari disebut Dien, juga mulai mengajar di Sekolah Dasar Taman Siswa, di mana salah satu muridnya adalah Manai Sophiaan, ayah Sophan Sophiaan, yang hingga akhir hayatnya tetap setia pada cita-cita bangsa dan bahkan kepada partai PNI (yang asli).
Namun, agar mendapat pendidikan yang terbaik, Sunaryati, terutama atas kehendak ibunya, disekolahkan di Fröbelschool Katolik di Ujung jalan, Arendsburg juga karena kebetulan dua gurunya, Mère Romana dan Mère Amarenzia juga mengajar di Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (Europese Lagere School) Katolik itu.
Di tahun 1939, karena dikhawatirkan akan pecah Perang Dunia Kedua, keluarga Sunario yang pada waktu itu telah bertambah dengan 2 anak perempuan (yaitu Astrid Sunarti dan Sunardine) serta seorang anak asuh (Remy), berangkat dan pindah ke Jawa, khususnya Yogyakarta dan kemudian di Salatiga.
Di Yogyakarta Sunaryati bersekolah di Sekolah Europese Lagere School I A di Jalan Ungaran dan menempati kelas V. Dan di Salatiga ia bersekolah di Sekolah Suster Katolik di Jalan Tuntang.
Akibat pecah Perang Dunia Kedua dan serbuan tentara Jepang ke Yogyakarta, keluarga besar Sastrowardojo dan sejumlah keluarga teman orang tua, seperti keluarga Korompis, mengungsi ke Desa Pakem selama kurang lebih 6 bulan. Di sana Sunaryati berkenalan dengan kehidupan pedesaan, cuci pakaian dan mandi di bawah pancuran, menikmati desir pohon bambu dan bunyi jangkrik dalam ketenangan malam, serta alunan gamelan yang membuat orang relaks, hening, dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dari pengungsian keluarga Sunario pindah ke Jakarta karena Mr. Sunario mulai bekerja di Departemen Kehakiman, bersama-sama dengan Dr. Supomo dan kemudian ditugasi sebagai dosen Shihoo Kanri Yozejoo (Sekolah Tinggi Hukum bagi calon jaksa).
Di Jakarta Sunaryati masuk di Sekolah Ju Ku (Sekolah Istimewa). Akan tetapi, karena ibunya mendengar bahwa anak perempuan di sekolah itu akan dikirim ke Jepang untuk dijadikan wanita penghibur, maka Sunaryati segera dipindahkan ke sekolah biasa, yaitu di kelas 5 Cihaya Gakkoo, di Cideng Timur, Jakarta Utara.
Setelah lulus ujian akhir, Sunaryati disekolahkan di Sekolah Menengah Pertama Putri di Salemba. Di sana Sunaryati sekelas dengan Maya Sastromulyono, Ibu Samelia Samil (Mingky Munandar) dan Winur Singgih (yang kemudian menjadi istri Jenderal Kemal Idris). Kemal Idris sendiri adalah anak laki-laki Drh. Idris yang juga menjadi teman seperjuangan dan diskusi Mr. Sunario―ayah Sunaryati―sejak dari Makassar, bersama-sama dengan Drh. Roosheroe, saudara kandung Prof. Roosseno.
Demikianlah persahabatan orang tua, tanpa sengaja juga mempertemukan anak-cucunya sampai hari ini dan memperkuat perjuangan dan kesadaran berbangsa satu dan bernegara Republik Indonesia. Itulah mungkin yang membentuk jiwa person Sunaryati hingga kini.
Akibat pindahnya Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada tahun 1946, Sunaryati pun ikut orang tuanya ke Yogya dan bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Putri Gondolayu, di mana ia bertemu dengan, antara lain, Asharni Djoko Asmo dan Oetami Boentaran (sekarang Prof. Dr. Oetami Munandar dari UI).
Demikianlah masa perjuangan menjalin persahabatan seumur hidup sampai hari ini. Namun, ketika duduk di SMA bagian B (Ilmu Pasti) di Kota Baru, Sunaryati sempat ikut pamannya ke Makassar. Sayang, akibat Clash Pertama antara NICA (Pemerintah Pendudukan Belanda di Indonesia) dan Pejuang-pejuang Kemerdekaan kita, ia tidak dapat kembali ke Yogya sehingga sempat tinggal di Bu Lik, adik ayahnya (tantenya) Ibu Soekanti Suryocondro (Ibu Dra. Psych Pamugari Suryocondro). Ketika itu Sunaryati bersekolah di Taman Dewasa Raya, Sekolah Taman Siswa, Jl. Garuda, setelah selama 6 bulan bersekolah di Sekolah Menengah Atas sore pimpinan Bpk Adam Bachtiar, sebelah Rumah Sakit Carolus, Salemba.
Lulus ujian negara, Sunaryati mendaftarkan diri ke Fakultas Hukum dan Ilmu Kemasyarakatan Universitas Indonesia untuk tahun kuliah tahun 1950 dan lulus sebagai Meester in de Rechten pada tanggal 5 Oktober 1955.
Setelah istirahat beberapa bulan ia melamar sebagai hakim Pengadilan Negeri Malang, menghadap Ketua Mahkamah Agung Mr. Wirjono Prodjodikoro dan setelah menyampaikan surat lamarannya dan diwawancarai oleh Ketua Mahkamah Agung sendiri, langsung diterima dan seminggu kemudian mulai melaksanakan tugasnya dengan mengikuti “in-house training” di Pengadilan Negeri Malang di bawah pimpinan Ketua R. Soetadji, seorang lulusan Rechtsschool yang menguasai 4 bahasa asing di samping bahasa Jawa dan Indonesia, yang ilmu, pengalaman, dan integritasnya jauh melampaui penguasaan ilmu, pengalaman, dan moralitas banyak hakim yang sarjana hukum atau magister hukum, bahkan doktor masa kini.
Hingga kini Sunaryati tetap berterima kasih atas pelajaran, nasihat, dan teladan hidup Ketua Pengadilan Negeri Malang, R. Soetadji, yang mengantarnya ke alam profesi hukum di Indonesia.
Sementara menjadi hakim, Sunaryati pada tahun 1956 diajak oleh Mr. Koesure yang menjadi Kepala Sekolah Menengah Atas Kehakiman di Malang untuk menjadi dosen Hukum Perdata dan Dagang, dan kemudian mengajar guru-guru Hukum Perniagaan di Malang untuk meningkatkan ilmunya dalam Kursus B1 (sekarang setara dengan Program Pascasarjana Hukum).
Tahun 1957 Sunaryati mengundurkan diri sebagai hakim karena akan menikah dan pindah ke Surabaya, di mana ia memulai kariernya sebagai pengacara.
Ketika suaminya yang pada saat itu menjadi asisten dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga belajar ke Amerika Serikat untuk mendalami Ilmu Mikrobiologi, maka Sunaryati yang pada tahun 1960 telah mempunyai 2 (dua) anak, yaitu Kristina (lahir tahun 1958) dan Irawan (lahir tahun 1959 dititipkan ke orang tuanya, yang kebetulan menjabat sebagai Duta Besar berkuasa penuh Republik Indonesia di London.
Daripada terus hanya menghadiri resepsi, Sunaryati lebih suka belajar mendalami Hukum Inggris, Hukum Perdata Internasional, Hukum Kontrak, dan Perbuatan Melawan Hukum serta Perbandingan Hukum di University College, London University, London, dan mengikuti kursus Adult Education di universitas yang sama dalam mata kuliah Sosiologi mengenai Masyarakat Inggris di masa Revolusi Industri. Dengan demikian, ia mencapai ijazah S-2-nya di tahun 1962.
Setelah kembali ke Jakarta, Indonesia, bersama-sama orang tuanya, Sunaryati kembali menjadi pengacara dengan membantu teman seangkatannya di Fakultas Hukum UI, Mr. The Yok Ham.
Setahun kemudian, suaminya kembali ke luar negeri dan seluruh keluarga Hartono kembali ke Surabaya.
Sayang sekali, kesulitan perumahan memaksa keluarga Hartono keluar dari Universitas Airlangga dan pindah ke Bandung untuk bekerja di PN Bio Farma. Di situlah Dr. Hartono bekerja sampai pensiunnya pada tahun 1987.
Sementara itu Sunaryati oleh Prof. Sudirman Kartohadiprodjo pada tahun 1964 diajak untuk mengajar di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, sedangkan Dr. Paul Muldigdo mengajaknya mengajar di Universitas Padjajaran.
Demikianlah profesi sebagai dosen penuh waktu dimulai sejak tahun 1964 dalam mata kuliah Hukum Perselisihan (Hukum Antargolongan), Hukum Perdata Internasional, dan Perbandingan Hukum.
Karena pada saat itu belum banyak terdapat buku pelajaran dalam bahasa Indonesia, maka diterbitkannyalah buku-buku: Apakah the Rule of Law itu?, Dari Hukum Antargolongan ke Hukum Antaradat, dan Capita Selecta Perbandingan Hukum, yang semuanya diterbitkan oleh Penerbit Alumni, Bandung, yang dipimpin oleh Sdr. Eddy Damian, S.H. (Sekarang guru besar dalam hukum Internasional di Unpad) yang pada waktu itu adalah suami seorang mahasiswa di Unpar yang setia, Sdri. Conny Damian,, S.H.
Di Unpad itu tumbuh dan berkembanglah kemampuan Sunaryati di bidang pendidikan hukum, sehingga ia sempat dikirim oleh Unpad dan/atau Konsorsium Ilmu Hukum ke berbagai Seminar Hukum di dalam dan luar negeri, seperti ke Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Airlangga, Universitas Hassanuddin, Universitas Ratulangi, Universitas Sumatra Utara, Universitas Andalas, Universitas …, maupun ke Berkeley University, Harvard University, Texas University, Utrecht University, UN University Tokyo, dan masih banyak lagi.
Pengalaman belajar dan mengajar inilah yang menumbuhkan jiwa belajar seumur hidup sehingga pada umur 75 tahun ini ia masih merasa perlu menggali lebih dalam ilmu-ilmu baru, seperti Futurologi, Cyber-Law, bahkan nikmatnya belajar dari cucu-cucunya mengenai alam pikiran remaja masa kini ataupun bagaimana menggunakan handphone dan/atau komputer secara lebih efektif dan optimal.
Setelah pada tahun 1972 meraih gelar Doktor dalam Ilmu Hukum di bawah bimbingan promotornya Prof. Mr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H. LL.M. dan Copromotor Prof. Dr. Mr. Sudargo Gautama, Ph.D serta Prof. Suriaatmadja (Bapak Koperasi Indonesia) dengan disertasi yang berjudul “Beberapa Masalah Transnasional dalam Penanaman Modal Asing di Indonesia”, Sunaryati oleh Ir. Junus yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur Utama Persero Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI) di Bandung, diminta untuk menjadi Penasihat Hukum perusahaan itu, yang dijalankannya sampai ia atas usul Menteri Kehakiman RI, Jenderal Ismail Saleh, S.H. diangkat oleh Presiden Republik Indonesia sebagai Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman Republik Indonesia. Mulailah pengalamannya sebagai birokrat.
Jabatan ini dijalankannya selama 8 tahun, sampai tahun 1996 ketika ia berumur 65 tahun, 5 tahun sesudah mencapai usia pensiunnya.
Sayang, justru pada saat ia ingin menikmati kehidupannya yang lebih santai dengan suami dan keluarganya, suami yang tercinta meninggal dunia sehingga terpaksalah ia hanya menyelesaikan tugasnya sebagai Anggota Komisi CEDAW (Commission on the Elimination and Discrimination Against Women) di Perserikatan Bangsa-Bangsa New York sampai tahun 1997.
Sunaryati juga sempat mencoba masuk ke dalam dunia politik ketika ia turut mendirikan Partai Demokrasi Kasih Bangsa bersama-sama dengan Dr. Midian Sirait dan adiknya Prof. Astrid Susanto-Sunario. Akan tetapi, sesudah 3 tahun ia keluar dari partai itu karena merasa tidak cocok dengan kehidupan kepartaian masa kini yang terlalu keras.
Sementara itu, ia bersama-sama dengan Mr. Sulaksana dan Ferry Sonneville mendirikan Yayasan Winaya Dharma. Di samping itu, dengan teman-teman lain, seperti Notaris Lena Wiardi, S.H., teman lama di asrama putri dan seorang saksi pernikahannya di Katedral, Jakarta, ia mendirikan Yayasan Hak Asasi Manusia Demokrasi dan Supremasi Hukum, yang setelah beberapa tahun terpaksa ditutup kedua-duanya.
Bagaimanapun juga selama “menganggur” Sunaryati tetap mengajar di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, sampai sekarang. Atas desakan Prof. Darji dan (alm.) Prof. Munadjat ia diminta untuk memimpin Program Pascasarjana Hukum di Universitas Krisnadwipayana sebagai Ketua Program, suatu universitas swasta yang mungkin paling tua di Jakarta, kalau tidak di Indonesia, karena didirikan pada tahun 1952, hanya dua tahun sesudah Universitas Indonesia.
Pada tahun 2000 dalam suatu seminar yang diadakan oleh Jakarta Lawyers Club di Hotel Hilton, akhirnya ia diminta oleh Bpk Antonius Sujata, S.H., M.H. untuk turut membantu Komisi Ombudsman Nasional, yang dilakukannya hingga saat ini sebagai Wakil Ketua Komisi Ombudsman Nasional, merangkap sebagai Anggota Komisi. Tugas utama yang dibebankan kepadanya adalah menyusun RUU Ombudsman Republik Indonesia dengan kawan-kawan di Komisi Ombudsman Nasional, Badan Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat, dan Departemen Hukum dan HAM. Bersyukurlah ia bahwa tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-75, tanggal 7 Juni 2006, sidang pembahasan pertama untuk membahas RUU Ombudsman RI itu di DPR benar-benar dimulai. Semoga hal itu menjadi pertanda baik bagi nasib RUU Ombudsman RI yang sudah 6 (enam) tahun ditunggu-tunggu demi Reformasi Birokrasi, Pencegahan Korupsi, Kolusi. dan Nepotisme, serta peningkatan Good Governance di negeri kita.
Sementara itu, Sunaryati tetap mengajar dan tidak dapat meninggalkan hobi penelitiannya, baik untuk Badan Pembinaan Hukum Nasional, Universitas Krisnadwipayana, Departemen Hukum dan HAM, Kantor Menteri Pendayagunaan Aparat Negara, atau siapa saja yang memintanya melakukan penelitian, penulisan buku, atau membagi ilmu dan pengalaman dengan berceramah.
Tentu saja ia tetap memerhatikan anak dan cucunya dengan sekali-sekali memberi saran atau mengajak mereka berkumpul atau jalan-jalan di dalam atau ke luar negeri, sambil menunjuk mereka pada peristiwa-peristiwa sejarah atau hasil karya manusia di museum dan/atau tempat bersejarah, sebagaimana ia sendiri dibesarkan oleh ibu-bapaknya yang tercinta.

* * * * * *



Beberapa karya tulis lainnya: